Hai masa lalu.
Tidak, aku hanya ingin menyapa. Berdebukah kau? Maaf aku
semakin jarang mengunjungimu. Aku disibukkan dengan masa kini dan impian masa
depan. Tenang saja, aku takkan melupakanmu. Aku hanya mungkin akan jarang
menengokmu.
Hai masa lalu.
Aku hanya ingin menyapa. Terimakasih pernah ada. Terimakasih
pernah menjadi bagian perjalananku. Sedih pun bahagia kisahmu menjadi penguat
langkahku di masa kini. Bukankah masa kini adalah hasil rentetan perjalanan
masa lalu? Maka itu aku berterima kasih.
Hai masa lalu.
Aku pernah jatuh, aku pernah sakit hati. Tapi sudah kusimpan
semua cerita dalam sebuah kotak kenangan, yang kunamakan masa lalu. Ya kamu.
Ruangmu mungkin kini gelap, aku pasti akan sering kembali melihat ruangmu,
namun hanya sebentar. Aku takkan lama-lama, sekadar melihat lagi seperti apa
jalan yang kulalui dulu agar aku bisa belajar lagi jika saja masa kiniku aku
lupa atau mungkin lalai menjaga langkah.
Hai masa lalu.
Lihatkah kau bagaimana aku di masa kiniku? Bagaimana
menurutmu? Semoga kau bangga. Sebab apapun yang kucapai, adalah karena semua
pelajaran di masa lalu begitu membekas dan mampu membentukku.
Hai masa lalu.
Mari berdamai. Aku akan belajar mendewasa. Menjadi lebih
tangguh di masa kini sebagai penguat langkahku dan pemantap kisahku di masa
depan.
Hai masa lalu.
Kini kau hadir membuatku bahagia, aku merasakan hal yang
berbeda, kau lah lanjutan kisahku untuk masa depanku. Bahagianya aku, kau hadir
di kehidupanku saat ini.
Terima kasih Ya Allah kau telah mengembalikan setengah hatiku lagi.
Kau buat hidupku jadi bermakna.
Semoga kita tetap menjaga hubungan ini, jangan pernah pergi lagi.
Semoga kita tetap menjaga hubungan ini, jangan pernah pergi lagi.
Ruang kosong
24-Mei-2015
Untukmu yang tak pernah lelah memaafkanku…
0 komentar: